11 January 2010

Pulau Tangkil (eksotisme pantai barat Lampung)

Pulau Tangkil, pulau kecil di Teluk Lampung yang menyimpan eksotisme pantai. Pulau wisata paling ramai dan paling mudah dijangkau dari Tanjung Karang, hanya 15 menit berperahu dari Pantai Mutun.

Read More..

07 January 2010

BELALAI-BELALAI YANG TERBENGKALAI

Suatu waktu di akhir 2009, dalam sebuah libur akhir minggu, saya berkesempatan berkunjung ke Lampung, sebuah daerah di ujung selatan pulau Sumatera, juga daerah Sumatera yang paling "jawa". Daerah yang karena kedekatannya dengan pulau terpadat di negeri ini -kurang lebih 2 jam menyeberangi Selat Sunda-, menjadi daerah yang beranjak menjadi seperti jawa. Tidak sekedar karena industri , pelabuhan, dan generally perekonomiannya yang semakin menggeliat, namun juga karena banyaknya perantau dari tanah Jawa di daerah ini.

Orang banyak mengenal Lampung karena gajah-nya, bisa jadi memang begitu, meskipun secara umum masih banyak potensi daerah ini yang bisa digali selain "hanya" faktor gajah. Pusat pelatihan gajah di Lampung, tepatnya di Way Kambas, (dahulu) memang menjadi salah satu ikon wisata Lampung. jadi mumpung ada kesempatan ke Lampung, tak saya sia-siakan kesempatan ini buat menengok 'sekolah' gajah tersebut, walau sekejap.

Seperti info dari seorang kawan yang tinggal di Lampung, ke Way Kambas akan memakan waktu yang cukup lama, dan perjalanan yang panjang, heheeee....-belum percaya kalau belum ngalamin-. Hari itu, Jumat, 18 desember 2009, saya dan beberapa teman meluncur menuju Way Kambas, membelah Tanah Lado. Kenapa Tanah Lado??ya, Lampung dulunya, utamanya pada jaman kolonialisasi VOC di negeri ini, Lampung menjadi daerah yang mashur sebagai penghasl lada hitam, magnet bagi-bagi kaum Eropa untuk :menjamah" neger-negeri di timur. *damn!!!*

sekitar 3 jam, akhirnya berhenti juga perjalanan dari Tanjung Karang-Lampung Timur pada sebuah rimbunan hutan dan perdu bernama Way Kambas.

“Penuh pertanyaan” adalah kesan saya pertama begitu menyelesaikan administrasi di pos penjagaan, jalan yang kami lalui selepas pos menuju pusat pelatihan ternyata hanya berupa jalan aspal dengan lebar tak lebih dari 5 meter dengan aspal yang telah mengelupas, bahkan ada beberapa meter ruas jalan yang melulu berupa tanah liat, apakah ini Way kambas yang kesohor itu. Dan lebih membuat saya bertanya-tanya lagi adalah kenapa dari jalan raya tidak ada akses transportasi sekedar sampai ke pos penjagaan???lalu bagaimana dengan pengunjung yang tak bawa kendaraan sendiri??ahhhh...terbayang ojek2 yang menawarkan jasanya dengan harga yang belum kutahu. beruntung dalam perjalanan ini, kami membawa kendaraan sendiri.

Lewat setengah jam perjalanan dari pintu gerbang utama, setelah membelah hutan perdu dengan jalan aspal yang tak bagus, sampailah kami di pusat pelatihan gajah. Lahan parkir di area ini berupa lapangan berumpun seluas kurang lebih seukuran lapangan sepakbola, dan tak berbatas dengan lapangan tempat belalai-belalai gajah sumatera menyapa para pengunjung yang baru turun dari kendaraan. Setelah sadar betapa jauhnya sampai ke sekolah gajah ini dari pintu gerbang, lagi2 saya bertanya, bagaimana dengan pengunjung yang tak membawa kendaraan sendiri??

Setelah puas menyaksikan gajah-gajah yang bercengkerama dengan pengunjung, saya berjalan melewati gedung kantor yang cukup using menuju danau buatan kecil tempat memandikan gajah. Di lokasi ini terlihat beberapa ekor gajah yang sedang dimandikan oleh pawangnya masing-masing. Dari tepi kolam, sekitar “sepelemparan batu” kea rah barat laut, terlihat mess, lebih tepatnya barak yang tak terawat, tempat tinggal para pawang gajah. Sungguh memprihatinkan melihatnya, mereka yang dengan sabar setiap saat menemani gajah-gajah bermain, memandikan, sampai menggiring pulang kandang kala petang menjelang. Salah satu pawang yang sdang tidak bertugas dan kami ajak ngobrol mengatakan bahwa perhatian Pemerintah sekarang tidak seperti dulu lagi. Sekarang lebih tidak terawat, kurang diperhatikan, entah benar atau tidak pernyataan ini, entah??tapi sepenglihatan saya bisa jadi benar, tempat ini tidak seheboh kemashurannya.

Pada jurusan lain yang melatarbelakangi kolam, padang rumput puluhan hektar dengan titik-titik hitam di kejauhan menjadi pemandangan yang menakjubkan karena titik-titik hitam itu adalah gajah-gajah yang sedang dilepas mencari makan sendiri. *ternyata gajah itu kecil, hohohoooo*



Untuk mengelilingi area yang sangat luas seperti ini, pengunjung dapat menggunakan kereta mobil yang berkapasitas sekitar 10-15an orang, atau bagi yang menyukai tantangan dapat berkeliling naik di atas punggung gajah yang cukup lebar.
Sampai saat petang menjelang, dan setelah dimandikan, masing-masing gajah mulai digiring masuk ke kandang oleh pawangnya. Saat itu pula aktivitas di Way Kambas berhenti, dan hanya obrolan para pawang di mess yang akan mewarnai, sambil menunggu dan berharap hari esok datang membuat sekolah gajah ini menjadi lebih baik, buat gajah-gajah dan tentunya buat para pawang yang menggantungkan hidupnya dari pekerjaan sebagai pawang. Read More..

04 January 2010

Lebih Dekat Dengan Mereka (Kanekes)

Awal Perjalanan
Seorang kawan yang luar biasa baik, Muhammad Arif Kirdiat, biasa saya sapa Kang Arif, selalu mengatakan “kapan ente ada waktu?” saat saya tanya “kapan kita ke Baduy Kang?”,ahaaa…pertanyaan yang menggelitik. Setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat, akhirnya kesempatan yang kutunggu itu datang di bulan November.

Sabtu, 14 November 2009

Pagi itu, saya, Kang Arif, Johan, Mamat, Ian, Ari, dan Dhanar janjian bertemu di depan Plasa Semanggi pukul 06.00 pagi. Pukul 06.30 semua berkumpul termasuk Xenia Kang Arif yang bakal kami pakai jalan hari itu, namun ternyata teman Mamat datang untuk menyampaikan maaf karena ga jadi ikut trip, “kudu lembur euy…”, ujarnya, jadi kami hanya ber-enam yang berangkat. Akhirnya pagi itu kami meluncur juga menuju tanah Banten.

Masih saling mengenal karena ada beberapa teman yang baru kenal, kami lancer melewati tol Jakarta-Tangerang-Merak-kota Serang dan selanjutnya saya tak ingat lagi satu persatu jalan yang kami lalui. Tepat tengah hari, saat jarum jam menunjukan pukul 12.00 kurang sekian menit, kami tiba juga di Ciboleger, terminal dan titik terakhir sebelum memasuki Desa Kanekes.



Setelah makan siang di sebuah warung makan kenalan Kang Arif di Ciboleger dan re-packing, kami semua siap meluncur menuju Desa Kanekes dengan tujuan langsung ke Baduy Dalam (Cibeo). Kebetulan sekali di warung itu kami bertemu Kang Idong dan Kang Yadi, 2 orang Badui Dalam yang baru saja mengantar tamu keluar, dan bukan kebetulan kalalu Kang Arif sudah kenal kedua orang sahabat itu. Kami tahu karena Kang Arif sudah sejak 14 tahun lalu bolak-balik keluar masuk Badui Dalam, termasuk sosialisasi saat musim kampanya, heheheee…..(yang ini off the record kok Kang, tenang aja).

Melintas Bukit dan Lembah

Setelah melewati gerbang utama memasuki Desa Kanekes , kami langsung menuju rumah Jaro’ Daena untuk melapor dan mengisi buku tamu, lagi-lagi Kang Arif sudah cukup akrab dengan beliau. Di rumah Jaro pulalah kami bertemu Juli, anak dari Mang Ardi, pemilik rumah yang rencananya akami kami tuju untuk singgah. Kang Arif tidak bias menutupi keheranannya, karena dia terakhir bertemu Juli sudah cukup lama saat Juli masih anak-anak, sementara sekarang Juli sudah beranjak dewasa dengan otot-ototnya yang kekar alami khas Baduy, kesempurnaan fisik yang ditempa alam.



Setelah semua beres, termasuk administrasi buku tamu, kami berenam, ditemani Kang Idong, Kang Yadi, Juli dan anak dari Kang Idong, memulai berjalan menyusuri jalan setapak Desa Kanekes. Sekitar 1 jam perjalanan, kami mulai memasuki Gajeboh, salah satu kampung di Baduy Luar. Setelah menengok keadaan sekitar, dan tak lupa mengabadikan sedikit gambar disitu, kamipun melanjutkan perjalanan, menuju Cibeo. “Masih dua per tiga perjalanan lagi kita sampai”, kata Kang Arif. Kami beruntung hari itu, hujan tidak turun selama kami memacu lutut dan nafas naik turun bukit lembah melewati jalan tanah liat setapak.



Lewat dari 2 jam ketika kami sampai di sebuah jembatan bambu di atas sungai yang menjadi batas antara Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Disini pula terakhir kali kami bias menggunakan gadget termasuk kamera, karena masih menjadi pantangan bagi orang Baduy Dalam untuk menggunakan itu di kampong mereka, dan kami sangat menghargai prinsip itu. Berarti tak ada lagi dokumentasi visual yang bias menggambarkan Baduy Dalam dengan segala aktivitasnya. Selepas jembatan, kami disuguhi tanjakan yang kata kang Idong, Cuma bentar, sehingga kami namai “tanjakan asoyy” dan ternyata tanjakannya memang benar2 asoyyyy…(konotatif), karena ini adalah tanjakan terakhir yang sangat menguras tenaga. Setapak demi setapak kami memijak batu yang disusun menjadi tangga namun tak beraturan.



Sekitar sepeminuman teh habis saat kami sampai diatas bukit di saung Kang Idong dan disambut anak-anak Kang Idong yang masih kecil, dan tentunya disambut makanan terenak yang kami ingat saat itu…durennnnn!!!!!! Betapa tidak nikmat, sembari berpeluh keringat ngos-ngosan kami membuka buah berduri tersebuut dan tanpa ba-bi-bu langsung menghabiskan beberapa butir duren, yang disambung dengan pisang ambon –yang lagi2-, ajibbbbb!!!!

Cibeo
“sebentar lagi kita sampai di kampung”, kata Kang Idong menyemangati, besar harapan kami saat itu akan segera sampai dan mengobati kelelahan selepas perjalanan. Lima menit pertama setelah “durians time” itu kami lalui datar-datar saja, 10, 20 menit kami lalui dengan medan naik turun meskipun tidak terlalu terjal namun cukup menguras tenaga dengan tanah yang lembab dan licin. Hingga sekitar setangah jam lewat saat kami mulai memasuki komplek penyimpanan padi berupa puluhan lumbung padi berbentuk panggung berukuran kurang lebih 2x2x2,5 meter. Hampir sama dengan lumbung padi yang digunakan masyarakat Baduy Luar.


Lumbung Padi di Baduy Luar

Sejenak kemudian kami telah memasuki kampong Cibeo, salah satu dari 3 kampung Baduy Dalam selain Cikeusik dan Cikartawana. Seperti rencana di awal perjalanan, rumah warga yang akan kami tuju dan menjadi tempat kami menumpang tidur malam itu, rumah panggung Mang Ardi, demikian ayah dari Juli itu kami panggil. Mang Ardi dengan istri dan anak-anaknya dengan keramahan yang luar biasa menyambut dan memperlakukan kami dengan luar biasa malam itu, tak ada kesan asing kepada kami, begitu pula warga lain yang berkerumun ikut bercerita di balai-balai rumah keluarga Mang Ardi malam itu.

*cerita ini saya tulis hanya berdasar ingatan, kekurangan informasi hanya kesengajaan belaka*

(to be cont...) Read More..

Search Box