31 August 2010

Kunjungan Dari Lereng Pegunungan Kendeng



Pagi itu, menjelang siang, HP bututku berdering dan terlihat sebuah nomor tak dikenal masuk. Sempat linglung sesaat ketika suara di seberang mengaku bernama Juli, baru terang ketika menambahkan kata Baduy di belakangnya, “Juli Baduy nih…” terangnya. Kaget setengah tak menyangka juga “bocah gaul” dari pedalaman Pegunungan Kendeng itu sampai di Jakarta, “untuk kedua kalinya tahun ini”, akunya pada sore hari setelah sampai di tempat tinggalku.

Sore itu, di hari minggu terakhir bulan Agustus, Juli, Jali sang kakak, dan ayah mereka Kang Ardi sedang duduk menunggu di warung mie rebus di belakang sebuah hotel di bilangan Cempaka Putih saat kutemui mereka. Entah kenapa naluri menuntunku langsung menuju warung yang tetap buka di siang puasa ini, meski dari luar tak nampak ketiga orang Baduy Dalam itu. Sekedar ‘feeling’ mengatakan bahwa mereka pasti lapar setelah sedari pagi berjalan dari daerah Jakarta Barat menuju tempat ini, hahahaaa…(jangankan mereka yang jalan kaki, naik motor aja pasti dehidrasi di ‘hangatnya’ kota ini).


“jadi gimana, bisa ngga kita nginap di rumah?”, Juli tiba2 bertanya setelah ngobrol ngalor ngidul ga jelas.

“bisa, bisa, tenang aja”, sambil berpikir mau diajak nginap dimana mereka, mengingat aku dan istri tinggal di sebuah kontrakan kecil mungil yang pastinya bakal penuh sesak apabila mereka bertiga menginap malam ini.

Penginapan!?!!tepat sekali!!, sambil mensyukuri betapa strategis kontrakanku yang sempit ini, karena hanya berjarak sepelemparan batu dari sebuah penginapan sederhana namun cukup nyaman untuk ditinggali. Akhirnya malam itu, bagian dari keluarga Kang Ardi ini bermalam di penginapan tersebut, “punteun Kang, ga bisa menjamu di rumah, karena memang belum punya rumah, hahahaaaa…”, tawaku disambut cengiran mereka bertiga.

Dalam perjalanannya menemui beberapa teman di Jakarta ini, ternyata Juli sudah membekali diri dengan HP pinjaman temen Baduy Luar-nya, meski dia wanti2, “Om, jangan bilangin ke Jaro atau Puun ya kalau saya bawa HP”, ujarnya takut-takut. Saya ingat kalau gadget macam begituan belum boleh mereka miliki, dan memang bakal mubadzir kalaupun punya, lha wong di Cibeo ga ada sinyal sama sekali.

Dan hari ini, ternyata Juli sudah janjian dengan beberapa temannya yang lain. Petang menjelang magrib, datang seorang temannya, dan….jebul kakak kelasku kuliah, walahhhhh dunyane sempit temen. Dan malamnya datang lagi temannya yang lain, betapa istimewanya keluarga Baduy ini, temannya bertabur dimana-mana di kota ini. Sampai dia cerita kalau hampir ga pernah beli makan kalau di Jakarta, alias selalu ditraktir sama teman-temannya.

Malam itu, sebelum mereka istirahat, masih sempat kami ngobrol2 barang sejenak, tentang keluarga besar Ardi di Cibeo sana, yang tinggal di rumah panggung sederhana di kedalaman Kanekes, sampai pengalaman sepanjang perjalanan sampai ke ibukota ini. Termasuk si Juli yang ketemu wanita ibukota "pujaannya" yang katanya baru pulang dari Amerika, hohooooo...gaul abis bocah ini,

Dan setelah mereka terlelap, teringat perjalananku ke Baduy beberapa waktu lalu (ceritanya disini), teringat pula keramahan mereka yang tulus. Keramahan yang menjalinkan keakraban kami dalam silaturrahmi yang tulus. Dan terlintas dalam pikiran, suatu saat nanti akan kembali mengunjungi Kanekes dengan keindahannya, sambil membayangkan mengajak sang buah hati yang sedang kutunggu hadirnya...
Read More..

04 August 2010

Bekerja, Harapan dan Kesenangan



Tiga hari terakhir, aku terdampar di sebuah kota di pesisir timur Borneo, untuk kedua kalinya setelah tahun 2008 lalu, Balikpapan. Bukan untuk berlibur, kedua-duanya untuk bekerja, kalau ada teman bertanya jawaban yang keluar adalah "ada gawean kantor", ahhh klise memang.... Dua tempat kerja yang berbeda yang mengirimku kesini, memberikanku kesempatan untuk setidaknya menengok sisi negeri yang lain, meskipun tidak untuk bersenang-senang, namun sedikit banyak memberikan kesegaran akan hal-hal yang baru kutemui.

Beberapa tahun lalu, tepatnya saat-saat kuliah dulu, sebersit keinginan timbul bahwa aku akan bekerja semata-mata untuk kesenangan belaka, sekedar menikmati hidup. Waktu itu ingin kubiarkan kaki melangkah mengikuti keinginan, goin' where the wind blows kata Mr.Big. Keinginan itu banyak dipengaruhi oleh hasrat yang terbatas pada masa-masa kuliah, terbatas waktu, biaya, maupun kewajiban menyelesaikan kuliah.

Sesaat setelah mengalami sendiri memeras keringat, sedikit demi sedikit mataku terbuka, bahwa hidup ini benar takkan bisa semau sendiri, terlalu banyak faktor yang mempengaruhi manusia yang katanya mahluk sosial untuk menjadi egois, setidaknya begini pemikiranku.

"ra iso ngono dul, urip yo kudu di plening bener-bener, ra bisa sa karepmu...", masih teringat kata-kata seorang temen lama yang berhenti kuliah untuk bekerja, dengan logat khas jawa timuran. Lalu saat-saat pertama berada di kota ini, selepas lebaran empat tahun lalu, benar-benar menjadi saat-saat aku mulai membuka mata, bahwa hidup ini begitu berwarna.

Sampai kini, dengan kesibukan yang tak terlalu sibuk di tempat kerja, dan sampai saatnya pula kuputuskan memiliki keluarga dengan seorang istri yang luar biasa, yang sedang mengandung calon anak kami. Selama ini pula aku masih belajar mengenai tanggung jawab, sebagai lelaki, sebagai seorang suami, dan sebentar lagi (Insya Alloh) menjadi seorang ayah. Tanggung jawab tidak hanya untuk diri ini sendiri, tapi untuk semua manusia yang telah kulibatkan dalam kehidupanku, keluarga dan kawan-kawan. Tanggung jawab untuk menjadi manusia yang bisa menikmati hidup tanpa harus melupakan kehidupan lain yang ada di sekitarnya.


Terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku, akan selalu kunikmati sebagai bagian dari pewarna yang akan membuat hidup ini makin indah. Berusaha pula menganggap segala tugas, beban sebagai kesenangan hidup. Menjalaninya dengan senyum dan tawa, sesulit dan semudah apapun itu. Maxim Gorky merumuskan hal ini dengan sangat baik, “Ketika pekerjaan adalah sebuah kesenangan, kehidupan ini akan menjadi sebuah kegembiraan. Ketika pekerjaan berarti sebuah tugas, kehidupan ini menjadi sebuah perbudakan”.

Pekerjaan, tidak bisa tidak, bagi sebagian orang, bahkan kadang saya masih belajar untuk tidak, masih menjadi beban belaka dalam hidupnya. Bahkan ada yang memutuskan tidak bekerja -dalam arti formal-, tidak terikat dengan kewajiban-kewjiban dari kantor, memilih pekerjaan bebas yang baginya bisa menimbulkan kenikmatan hati. Namun di sisi lain, banyak pula pekerjaan yang memang menjadi keharusan, seberat apapun pekerjaan itu, keharusan untuk sekedar menyambung hidup.


*foto diambil di Kota Tua, Jakarta*

Sampai saat harus kuselesaikan semua pekerjaan ini, dengan sedikit keluhan manusiawi, masih kukenang sebagai sebuah kesenangan dalam hidup.

*Balikpapan, 5 Agustus 2010*
Read More..

Search Box