07 January 2010

BELALAI-BELALAI YANG TERBENGKALAI

Suatu waktu di akhir 2009, dalam sebuah libur akhir minggu, saya berkesempatan berkunjung ke Lampung, sebuah daerah di ujung selatan pulau Sumatera, juga daerah Sumatera yang paling "jawa". Daerah yang karena kedekatannya dengan pulau terpadat di negeri ini -kurang lebih 2 jam menyeberangi Selat Sunda-, menjadi daerah yang beranjak menjadi seperti jawa. Tidak sekedar karena industri , pelabuhan, dan generally perekonomiannya yang semakin menggeliat, namun juga karena banyaknya perantau dari tanah Jawa di daerah ini.

Orang banyak mengenal Lampung karena gajah-nya, bisa jadi memang begitu, meskipun secara umum masih banyak potensi daerah ini yang bisa digali selain "hanya" faktor gajah. Pusat pelatihan gajah di Lampung, tepatnya di Way Kambas, (dahulu) memang menjadi salah satu ikon wisata Lampung. jadi mumpung ada kesempatan ke Lampung, tak saya sia-siakan kesempatan ini buat menengok 'sekolah' gajah tersebut, walau sekejap.

Seperti info dari seorang kawan yang tinggal di Lampung, ke Way Kambas akan memakan waktu yang cukup lama, dan perjalanan yang panjang, heheeee....-belum percaya kalau belum ngalamin-. Hari itu, Jumat, 18 desember 2009, saya dan beberapa teman meluncur menuju Way Kambas, membelah Tanah Lado. Kenapa Tanah Lado??ya, Lampung dulunya, utamanya pada jaman kolonialisasi VOC di negeri ini, Lampung menjadi daerah yang mashur sebagai penghasl lada hitam, magnet bagi-bagi kaum Eropa untuk :menjamah" neger-negeri di timur. *damn!!!*

sekitar 3 jam, akhirnya berhenti juga perjalanan dari Tanjung Karang-Lampung Timur pada sebuah rimbunan hutan dan perdu bernama Way Kambas.

“Penuh pertanyaan” adalah kesan saya pertama begitu menyelesaikan administrasi di pos penjagaan, jalan yang kami lalui selepas pos menuju pusat pelatihan ternyata hanya berupa jalan aspal dengan lebar tak lebih dari 5 meter dengan aspal yang telah mengelupas, bahkan ada beberapa meter ruas jalan yang melulu berupa tanah liat, apakah ini Way kambas yang kesohor itu. Dan lebih membuat saya bertanya-tanya lagi adalah kenapa dari jalan raya tidak ada akses transportasi sekedar sampai ke pos penjagaan???lalu bagaimana dengan pengunjung yang tak bawa kendaraan sendiri??ahhhh...terbayang ojek2 yang menawarkan jasanya dengan harga yang belum kutahu. beruntung dalam perjalanan ini, kami membawa kendaraan sendiri.

Lewat setengah jam perjalanan dari pintu gerbang utama, setelah membelah hutan perdu dengan jalan aspal yang tak bagus, sampailah kami di pusat pelatihan gajah. Lahan parkir di area ini berupa lapangan berumpun seluas kurang lebih seukuran lapangan sepakbola, dan tak berbatas dengan lapangan tempat belalai-belalai gajah sumatera menyapa para pengunjung yang baru turun dari kendaraan. Setelah sadar betapa jauhnya sampai ke sekolah gajah ini dari pintu gerbang, lagi2 saya bertanya, bagaimana dengan pengunjung yang tak membawa kendaraan sendiri??

Setelah puas menyaksikan gajah-gajah yang bercengkerama dengan pengunjung, saya berjalan melewati gedung kantor yang cukup using menuju danau buatan kecil tempat memandikan gajah. Di lokasi ini terlihat beberapa ekor gajah yang sedang dimandikan oleh pawangnya masing-masing. Dari tepi kolam, sekitar “sepelemparan batu” kea rah barat laut, terlihat mess, lebih tepatnya barak yang tak terawat, tempat tinggal para pawang gajah. Sungguh memprihatinkan melihatnya, mereka yang dengan sabar setiap saat menemani gajah-gajah bermain, memandikan, sampai menggiring pulang kandang kala petang menjelang. Salah satu pawang yang sdang tidak bertugas dan kami ajak ngobrol mengatakan bahwa perhatian Pemerintah sekarang tidak seperti dulu lagi. Sekarang lebih tidak terawat, kurang diperhatikan, entah benar atau tidak pernyataan ini, entah??tapi sepenglihatan saya bisa jadi benar, tempat ini tidak seheboh kemashurannya.

Pada jurusan lain yang melatarbelakangi kolam, padang rumput puluhan hektar dengan titik-titik hitam di kejauhan menjadi pemandangan yang menakjubkan karena titik-titik hitam itu adalah gajah-gajah yang sedang dilepas mencari makan sendiri. *ternyata gajah itu kecil, hohohoooo*



Untuk mengelilingi area yang sangat luas seperti ini, pengunjung dapat menggunakan kereta mobil yang berkapasitas sekitar 10-15an orang, atau bagi yang menyukai tantangan dapat berkeliling naik di atas punggung gajah yang cukup lebar.
Sampai saat petang menjelang, dan setelah dimandikan, masing-masing gajah mulai digiring masuk ke kandang oleh pawangnya. Saat itu pula aktivitas di Way Kambas berhenti, dan hanya obrolan para pawang di mess yang akan mewarnai, sambil menunggu dan berharap hari esok datang membuat sekolah gajah ini menjadi lebih baik, buat gajah-gajah dan tentunya buat para pawang yang menggantungkan hidupnya dari pekerjaan sebagai pawang. Read More..

04 January 2010

Lebih Dekat Dengan Mereka (Kanekes)

Awal Perjalanan
Seorang kawan yang luar biasa baik, Muhammad Arif Kirdiat, biasa saya sapa Kang Arif, selalu mengatakan “kapan ente ada waktu?” saat saya tanya “kapan kita ke Baduy Kang?”,ahaaa…pertanyaan yang menggelitik. Setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat, akhirnya kesempatan yang kutunggu itu datang di bulan November.

Sabtu, 14 November 2009

Pagi itu, saya, Kang Arif, Johan, Mamat, Ian, Ari, dan Dhanar janjian bertemu di depan Plasa Semanggi pukul 06.00 pagi. Pukul 06.30 semua berkumpul termasuk Xenia Kang Arif yang bakal kami pakai jalan hari itu, namun ternyata teman Mamat datang untuk menyampaikan maaf karena ga jadi ikut trip, “kudu lembur euy…”, ujarnya, jadi kami hanya ber-enam yang berangkat. Akhirnya pagi itu kami meluncur juga menuju tanah Banten.

Masih saling mengenal karena ada beberapa teman yang baru kenal, kami lancer melewati tol Jakarta-Tangerang-Merak-kota Serang dan selanjutnya saya tak ingat lagi satu persatu jalan yang kami lalui. Tepat tengah hari, saat jarum jam menunjukan pukul 12.00 kurang sekian menit, kami tiba juga di Ciboleger, terminal dan titik terakhir sebelum memasuki Desa Kanekes.



Setelah makan siang di sebuah warung makan kenalan Kang Arif di Ciboleger dan re-packing, kami semua siap meluncur menuju Desa Kanekes dengan tujuan langsung ke Baduy Dalam (Cibeo). Kebetulan sekali di warung itu kami bertemu Kang Idong dan Kang Yadi, 2 orang Badui Dalam yang baru saja mengantar tamu keluar, dan bukan kebetulan kalalu Kang Arif sudah kenal kedua orang sahabat itu. Kami tahu karena Kang Arif sudah sejak 14 tahun lalu bolak-balik keluar masuk Badui Dalam, termasuk sosialisasi saat musim kampanya, heheheee…..(yang ini off the record kok Kang, tenang aja).

Melintas Bukit dan Lembah

Setelah melewati gerbang utama memasuki Desa Kanekes , kami langsung menuju rumah Jaro’ Daena untuk melapor dan mengisi buku tamu, lagi-lagi Kang Arif sudah cukup akrab dengan beliau. Di rumah Jaro pulalah kami bertemu Juli, anak dari Mang Ardi, pemilik rumah yang rencananya akami kami tuju untuk singgah. Kang Arif tidak bias menutupi keheranannya, karena dia terakhir bertemu Juli sudah cukup lama saat Juli masih anak-anak, sementara sekarang Juli sudah beranjak dewasa dengan otot-ototnya yang kekar alami khas Baduy, kesempurnaan fisik yang ditempa alam.



Setelah semua beres, termasuk administrasi buku tamu, kami berenam, ditemani Kang Idong, Kang Yadi, Juli dan anak dari Kang Idong, memulai berjalan menyusuri jalan setapak Desa Kanekes. Sekitar 1 jam perjalanan, kami mulai memasuki Gajeboh, salah satu kampung di Baduy Luar. Setelah menengok keadaan sekitar, dan tak lupa mengabadikan sedikit gambar disitu, kamipun melanjutkan perjalanan, menuju Cibeo. “Masih dua per tiga perjalanan lagi kita sampai”, kata Kang Arif. Kami beruntung hari itu, hujan tidak turun selama kami memacu lutut dan nafas naik turun bukit lembah melewati jalan tanah liat setapak.



Lewat dari 2 jam ketika kami sampai di sebuah jembatan bambu di atas sungai yang menjadi batas antara Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Disini pula terakhir kali kami bias menggunakan gadget termasuk kamera, karena masih menjadi pantangan bagi orang Baduy Dalam untuk menggunakan itu di kampong mereka, dan kami sangat menghargai prinsip itu. Berarti tak ada lagi dokumentasi visual yang bias menggambarkan Baduy Dalam dengan segala aktivitasnya. Selepas jembatan, kami disuguhi tanjakan yang kata kang Idong, Cuma bentar, sehingga kami namai “tanjakan asoyy” dan ternyata tanjakannya memang benar2 asoyyyy…(konotatif), karena ini adalah tanjakan terakhir yang sangat menguras tenaga. Setapak demi setapak kami memijak batu yang disusun menjadi tangga namun tak beraturan.



Sekitar sepeminuman teh habis saat kami sampai diatas bukit di saung Kang Idong dan disambut anak-anak Kang Idong yang masih kecil, dan tentunya disambut makanan terenak yang kami ingat saat itu…durennnnn!!!!!! Betapa tidak nikmat, sembari berpeluh keringat ngos-ngosan kami membuka buah berduri tersebuut dan tanpa ba-bi-bu langsung menghabiskan beberapa butir duren, yang disambung dengan pisang ambon –yang lagi2-, ajibbbbb!!!!

Cibeo
“sebentar lagi kita sampai di kampung”, kata Kang Idong menyemangati, besar harapan kami saat itu akan segera sampai dan mengobati kelelahan selepas perjalanan. Lima menit pertama setelah “durians time” itu kami lalui datar-datar saja, 10, 20 menit kami lalui dengan medan naik turun meskipun tidak terlalu terjal namun cukup menguras tenaga dengan tanah yang lembab dan licin. Hingga sekitar setangah jam lewat saat kami mulai memasuki komplek penyimpanan padi berupa puluhan lumbung padi berbentuk panggung berukuran kurang lebih 2x2x2,5 meter. Hampir sama dengan lumbung padi yang digunakan masyarakat Baduy Luar.


Lumbung Padi di Baduy Luar

Sejenak kemudian kami telah memasuki kampong Cibeo, salah satu dari 3 kampung Baduy Dalam selain Cikeusik dan Cikartawana. Seperti rencana di awal perjalanan, rumah warga yang akan kami tuju dan menjadi tempat kami menumpang tidur malam itu, rumah panggung Mang Ardi, demikian ayah dari Juli itu kami panggil. Mang Ardi dengan istri dan anak-anaknya dengan keramahan yang luar biasa menyambut dan memperlakukan kami dengan luar biasa malam itu, tak ada kesan asing kepada kami, begitu pula warga lain yang berkerumun ikut bercerita di balai-balai rumah keluarga Mang Ardi malam itu.

*cerita ini saya tulis hanya berdasar ingatan, kekurangan informasi hanya kesengajaan belaka*

(to be cont...) Read More..

06 October 2009

Malam di Jantung Kota

Jakarta, kota yang tek pernah tidur selalu memberi mimpi2 yang seolah tak akan habis memberikan janji2 indah kepada penghuninya dan orang2 diluar yang tertarik mendiaminya.

Sore itu, saya dan beberapa temen kantor berjanji untuk jalan2 pada malam hari, melepas penat setelah hari2 kerja yang cukup padat sepanjang minggu. Jakarta memiliki begitu banyak pilihan tempat hiburan, diskotik, klub malam, bar, tapi sayang tak ada yang menarik minatku. Malam itu kami berbeberapa memiliki minat yang sama pada sebuah ruas jalan yang terletak di jantung kota, MH. Thamrin.


Ruas jalan yang cukup gemerlap ini tidak terlalu panjang, hanya sekitar 1-1,5 km melintang dari bundaran hotel Indonesia (BHI) sampai silang monas. Jalan yang dipagari gedung2 tinggi beraneka bentuk tempat berbagai perusahaan, lembaga, instansi, berkantor didalamnya.

Ruas jalan yang cukup terang, seolah tak ada beda malam dengan siang.


ersimpangannya yang tetap hidup meski pagi menjelang

lalu lintas yang tak menyisakan ruang bagi marka-marka yang berserakan
dibatasi sebuah rung gelap pada sebuah lingkaran yang mengelilingi sekolam air tanpa sudut.
perjalanan kami menikmati malam itu berakhir pada sebuah tempat menyeruput kopi, di satu sudut Thamrin. ruangan kecil yang diterangi beberapa kecil lampu2 redup.



perjalanan pada sebuah malam sekedar menghirup udara tanpa polusi.
dan berujung pada sebuah pagi....

thanks kamerad Doan, Nino, n Alex.
Read More..

30 September 2009

Pulang (#2) Lebaran

Orang-orang yang mengenal tempatku dilahirkan disini, barangkali ada beberapa yang sepakat denganku bahwa sulit mengharapkan “masa depan” dari desa ini (murni pendapat pribadiku, dan berlaku bisa jadi untukku saja). Hidup yang hanya bersandar pada hasil pertanian, sawah tepatnya, serta sedikit variasai mata pencaharian lain. Pengangguran yang ada dimana-mana, kekurangan yang nampak disana-sini, tidak bisa tidak merupakan masalah sosial yang selalu menghantui desa ini. "masa depan" yang kumaksud, adalah masa depan bagi orang2 sepertiku, yang tidak memiliki akar agraris yang kuat, sedikit darah pedagang dari kakek dan ibu, serta ayah yang seorang pengabdi negara. Di desa ini aku rasakan tidak ada ruang bagiku untuk maju, lebih karena memang aku tak mampu.

Tiga tahun lalu nasib membawaku pergi, merantau yang sebenar-benarnya pergi, karena sebenarnya sudah sejak SMA aku tak lagi tinggal di desa ini. hampir separuh usiaku habis dalam perantauan. kesadaran akan sempitnya bergerak maju (bagiku) disini yang menuntunku untuk mengembara dari daerah ke daerah lain sampai akhirnya ke jakarta sampai saat ini. tidak lain aku lakukan untuk bisa terus bertahan hidup dengan sedikit kemampuan survival di dunia antah berantah bernama negeri sontoloyo ini.

Dua hari lalu, aku pulang, seperti yang orang-orang bilang "mudik" ke asal hidupku dimulai di muka bumi. beberapa malam sebelumnya, seorang teman berujar "kenapa sih, orang-orang pada heboh mudik, kan bisa menunggu seminggu setelah lebara, ambil cuti, lancar deh perjalanan". perkataan temen itu sempet mengganggu pikiranku sejenak, sampai akhirnya malam ini kurasakan yang sesungguhnya dari makna sebuah perjalanan melelahkan yang dinamakan "mudik".

Setiap malam 1 Syawal (tentunya setelah merujuk pada hasil sidang isbath departemen agama), terjadi aktivitas yang menarik di desaaku ini. selepas magrib, setelah sebagian banyak penduduknya menyelesaikan ibadah puasanya yang terakhir sebelum syawal, kalimat takbir berkumandang dimana-mana, lazimnya ditemui di semua bagian bumi ini yang bermayoritas muslim.

Masyarakat terlihat berlalu lalang di jalanan kampungku yang tak beraspal, membawa kerendeng, jinjingan yang terbuat dari anyaman plastik atau kantong jinjing jenis lain yang berisi kantong plastic kresek berisi beras seberat kurang lebih 2,8kg (sebagian lain bilang 2,5kg,wallaahu a’lam). Zakat, ya, memang itu yang sedang dilakukan warga di dusunku saat malam takbir, berbagi zakat fitrah kepada pihak-pihak yang berhak. Fakir miskin dan mujahid fii sabilillah adalah sasaran zakat yang biasa menerima zakat dari masyarakat. Mujahidin fii sabilillah disini adalah para kiyai, pengajar madrasah, guru mengaji, dan orang-orang yang mendarmakan hidupnya untuk berjuang di jalan Alloh.

Zakat fitrah yang memang wajib bagi umat muslim merupakan implementasi kesadaran berbagi dalam khasanah bermasyarakat umat muslim. Berbagi disini tidak hanya bermakna dari yang mampu kepada yang tak mampu, namun karena wajib, maka mampu atau tidak, akan menyisihkan hartanya untuk berzakat ini. Sungguh indah situasi berbagi yang ku alami di dusunku (dan di masyarakat muslim lainnya). Keindahan yang kudamba akan menjadi urat nadi kedamaian dunia.

Dan sampai mataku berkedip, tak mampu kuteruskan tulisan ini…ngantuk.

(semoga) bersambung.

(Malam 1 Syawal 1430 H, 03.00, dan disunting lagi 11 hari setelahnya). Read More..

Tak Ada Tawa Semu Di Sini

Kadang saat pekerjaan di kantor yang begitu menumpuk tak kunjung selesai, saat merenung, seringkali lamunanku tarantuk jauh pada kampung halamanku. kampung yang selaku dipenuhi tawa bocah-bocah yang bermain di sela-sela ladang dan sawah.



celoteh ponakan2 yang selalu membuat rumah kami ceria.



pada keremangan senja dan malam yang membuai.





pada pantai sejarak tempuh sepeminuman teh dari rumah...



tempat kami biasa mengadu kaki merebut satu barang berharga bernama "bola"



pokok-pokok nyiur yang tak henti menghidupi...



pasir-pasir pantai yang menyilahkan tubuhnya menjadi tempat mengais rejeki



kebahagiaan di dusun kami begitu indah, tawa ceria bapak anak yang tulus



kakak yang ikhlas menuntun adiknya



kebahagiaan bermain meski sendiri...



bahkan anjing-pun sangat menikmati hari-harinya



disini, kebahagiaan kami yang tak semu...



sekarang, kebahagiaan itu lekat dalam lamunan. Read More..

Search Box