21 April 2009

Sepenggal Cerita Di Atas Kereta

Kereta, moda transportasi yang kini menjadi favorit bagi sebagian besar pemudik termasuk saya, kaum perantau yang berasal dari berbagai pelosok “ndusun” (istilah yang saya pakai untuk daerah di luar Jakarta) yang mengais rejeki di ibukota nan makin sumpek. Kereta dipilih karena memiliki beberapa kelebihan (juga menurut kami) antara lain relative lebih cepat dari moda transportasi darat yang lain, lebih tidak membosankan daripada bus misalnya dan dengan kapasitas angkut yang jauh lebih banyak tentunya…(ini subyektif saya lho…)

Dan pagi ini, kereta itu datang dari arah Kutoarjo, sebuah kota kecil yang ada di pesisir selatan Jawa meraung-raung dengan gerbong yang kalau tidak keliru ada 10 buah dan ditarik sebuah loko bertenaga diesel. Dipunggungku bersandar tas ransel tak terlalu besar berisi beberapa potong pakaian, tidak terlalu repot pikirku, melihat kerumunan calon penumpang yang makin terkonsentrasi di peron. Detik per detik berlalu ketika lokomotif berwarna putih dengan gagahnya memasuki stasiun, gujesss…gujess…gujess… Bersamaan dengan itu, nampak ratusan, bahkan mungkin ribuak tangan dan beberapa anggota tubuh lainnya yang keluar dari sela jendela kereta bisnis ini, dusss…terhenyak aku melihat betapa padatnya penumpang kereta ini.

Dengan sedikit memanfaatkan badanku, kupaksakan untuk bias menyela diantara kerumunan orang di bordes, setapak demi setapak aku cari kursi sesuai tiketku ditengah gerbong yang –Masya Alloh, ini pengalaman pertama- luar biasa penuh sesak. Sampai saat matari mulai bergeser sepenggalah, kaki ini tak lekas menemukan pijakan untuk sekedar merehat. Namun, ternyata lebih banyak hal yang bias aku dapatkan dari kejadian ini, lebih dari sekedar kalo aku duduk barangkali.

Sepanjang dalam perjalanan, mata dan perasaanku tak akan pernah lepas dari polah tingkah ribuan manusia yang berseliweran hilir mudik, tak lebih dari 20 senti dari mukaku, bahkan badan ini mesti berdesak singgung dengan mereka semua.
Yang pertama adalah sesama penumpang, tak ada proses formal kenalan, dan bahkan tak satupun dari mereka aku tahu namanya sampai turun kemudian, namun hal terbesar yang bisa aku petik adalah, perasaan kesenasib-sepenanggungan itu masih ada, ya, di tengah pergaulan “Bumi Manusia” yang makin masygul dengan pergaulan dalam arti yan sedalam-dalamnya. Aku ingat ketika anak muda yang ada disebelahku, menawarkan sejengkal ruang bagi badanku yang memang boros, lalu satu lagi pemuda dengan pakaian yang bisa dibilang lusuh (mengingatkan masa kuliah dulu), dengan tulus iklas (nampaknya begitu), membawakan tumpukan tas dan kardus bawaan seorang ibu yang pergi dalam sendiri. Lalu, ada mba-mba yang dari tas kecilnya dia keluarkan segenggam permen dan menawari kami semua yang berkerumus disekelilingnya…ahhh, benar2 sebuah nostalgia (dan harapan) akan indahnya hidup ditengah kehidupan yang makin kehilangan hangatnya.

Yang kedua, pedagang asongan yang hilir mudik berganti tak pernah lelah menawarkan dagangannya demi sejumput laba. Mulai dari yang paling lazim, kopi dan popmie, sampai makanan local yang selalu berubah di tiap pemberhentian, menawarkan variasi kuliner sederhana di tengah gerahnya suasana kereta. Motif ekonomi telah membuat, atau bisa jadi memaksa, mereka berpeluh, berdesak, dan dengan lincah menghindar dari kejaran segelintir polsuska yang –entah apa motifnya- mengejar2 dan mengusir “distributor” makanan berjalan bagi kami ini. Banyak diantara penumpang yang amat sangat terganggu dengan kehadiran mereka, bahkan saya juga dengan entengnya nggerundel atas kehadiran mereka, namun, lagi2 dengan lantangnya mereka bilang, “abot-abote golet duit mas”…ahaaaa, gambaran indah perjuangan akan kelangsungan hidup.

Selanjutnya adalah, -dan terakhir saya ceritakan, dan ini paling menarik-, gagahnya petugas penarik tiket disertai dengan aparat yang mengikutinya, dengan wajah garang dan gagah, bertanya kepada setiap penumpang “tiketnya mas/pak/mba/bu???”. Dan saat tiba di bordes, banyak hal menarik yang dapat kulihat, dan barangkali bagi orang yang biasa naik kereta ini hal biasa, transaksi “melegalkan” penumpang gelap untuk dapat disebut “penumpang”. Dan lebih menarik lagi adalah saat tangan yang disisipkan di kepalan tangan petugas, dirasa tidak memberikan lipatan yang tebal, dan yang keluar adalah kata atau umpatan….”kalo sampeyan ga bayar lebih, lebih baik turun di setasiun depan nanti saja!!!”

1 comment:

  1. mengingatkanku pada perjalanan ke jakarta kemaren..hehe

    ReplyDelete

Search Box