09 December 2010

(sudah) Akhir Tahun

September, Oktober, November, lebih dari 3 bulan sudah tak menyentuh lembaran ini, betapa sombongnya kamu Man, Man...(sebutlah umpamanya aku Giman). Dan tak terasa, sudah sepertiga bulan Desember hampir lewat, yang artinya dalam hitungan sekitar 20 hari lagi menjelang tahun yang baru. Dan tahun hijriah yang baru (1432 H) pun sudah menginjak hari yang ke-3.

Sudah terlalu banyak yang terlewat memang, masalahnya adalah apakah yang sudah terlewat itu adalah hal yang baik atau kurang baik, atau bahkan tidak baik, pilihan pertama tentu yang diharapkan.

Di tengah istirahat siang di kantor ini, rasa-rasanya kok pengen berada di sebuah desa pada lereng sebuah gunung dengan udaranya yang semilir kriyip kriyip...menemani istriku menunggu kelahiran anak pertama kami, menyuplai udara segar ke dalam sistem pernafasan sang jabang bayi, ahahahaaa....indahnya.


*seorang bocah menikmati kedamaian sebuah dusun di Banten selatan* Read More..

31 August 2010

Kunjungan Dari Lereng Pegunungan Kendeng



Pagi itu, menjelang siang, HP bututku berdering dan terlihat sebuah nomor tak dikenal masuk. Sempat linglung sesaat ketika suara di seberang mengaku bernama Juli, baru terang ketika menambahkan kata Baduy di belakangnya, “Juli Baduy nih…” terangnya. Kaget setengah tak menyangka juga “bocah gaul” dari pedalaman Pegunungan Kendeng itu sampai di Jakarta, “untuk kedua kalinya tahun ini”, akunya pada sore hari setelah sampai di tempat tinggalku.

Sore itu, di hari minggu terakhir bulan Agustus, Juli, Jali sang kakak, dan ayah mereka Kang Ardi sedang duduk menunggu di warung mie rebus di belakang sebuah hotel di bilangan Cempaka Putih saat kutemui mereka. Entah kenapa naluri menuntunku langsung menuju warung yang tetap buka di siang puasa ini, meski dari luar tak nampak ketiga orang Baduy Dalam itu. Sekedar ‘feeling’ mengatakan bahwa mereka pasti lapar setelah sedari pagi berjalan dari daerah Jakarta Barat menuju tempat ini, hahahaaa…(jangankan mereka yang jalan kaki, naik motor aja pasti dehidrasi di ‘hangatnya’ kota ini).


“jadi gimana, bisa ngga kita nginap di rumah?”, Juli tiba2 bertanya setelah ngobrol ngalor ngidul ga jelas.

“bisa, bisa, tenang aja”, sambil berpikir mau diajak nginap dimana mereka, mengingat aku dan istri tinggal di sebuah kontrakan kecil mungil yang pastinya bakal penuh sesak apabila mereka bertiga menginap malam ini.

Penginapan!?!!tepat sekali!!, sambil mensyukuri betapa strategis kontrakanku yang sempit ini, karena hanya berjarak sepelemparan batu dari sebuah penginapan sederhana namun cukup nyaman untuk ditinggali. Akhirnya malam itu, bagian dari keluarga Kang Ardi ini bermalam di penginapan tersebut, “punteun Kang, ga bisa menjamu di rumah, karena memang belum punya rumah, hahahaaaa…”, tawaku disambut cengiran mereka bertiga.

Dalam perjalanannya menemui beberapa teman di Jakarta ini, ternyata Juli sudah membekali diri dengan HP pinjaman temen Baduy Luar-nya, meski dia wanti2, “Om, jangan bilangin ke Jaro atau Puun ya kalau saya bawa HP”, ujarnya takut-takut. Saya ingat kalau gadget macam begituan belum boleh mereka miliki, dan memang bakal mubadzir kalaupun punya, lha wong di Cibeo ga ada sinyal sama sekali.

Dan hari ini, ternyata Juli sudah janjian dengan beberapa temannya yang lain. Petang menjelang magrib, datang seorang temannya, dan….jebul kakak kelasku kuliah, walahhhhh dunyane sempit temen. Dan malamnya datang lagi temannya yang lain, betapa istimewanya keluarga Baduy ini, temannya bertabur dimana-mana di kota ini. Sampai dia cerita kalau hampir ga pernah beli makan kalau di Jakarta, alias selalu ditraktir sama teman-temannya.

Malam itu, sebelum mereka istirahat, masih sempat kami ngobrol2 barang sejenak, tentang keluarga besar Ardi di Cibeo sana, yang tinggal di rumah panggung sederhana di kedalaman Kanekes, sampai pengalaman sepanjang perjalanan sampai ke ibukota ini. Termasuk si Juli yang ketemu wanita ibukota "pujaannya" yang katanya baru pulang dari Amerika, hohooooo...gaul abis bocah ini,

Dan setelah mereka terlelap, teringat perjalananku ke Baduy beberapa waktu lalu (ceritanya disini), teringat pula keramahan mereka yang tulus. Keramahan yang menjalinkan keakraban kami dalam silaturrahmi yang tulus. Dan terlintas dalam pikiran, suatu saat nanti akan kembali mengunjungi Kanekes dengan keindahannya, sambil membayangkan mengajak sang buah hati yang sedang kutunggu hadirnya...
Read More..

04 August 2010

Bekerja, Harapan dan Kesenangan



Tiga hari terakhir, aku terdampar di sebuah kota di pesisir timur Borneo, untuk kedua kalinya setelah tahun 2008 lalu, Balikpapan. Bukan untuk berlibur, kedua-duanya untuk bekerja, kalau ada teman bertanya jawaban yang keluar adalah "ada gawean kantor", ahhh klise memang.... Dua tempat kerja yang berbeda yang mengirimku kesini, memberikanku kesempatan untuk setidaknya menengok sisi negeri yang lain, meskipun tidak untuk bersenang-senang, namun sedikit banyak memberikan kesegaran akan hal-hal yang baru kutemui.

Beberapa tahun lalu, tepatnya saat-saat kuliah dulu, sebersit keinginan timbul bahwa aku akan bekerja semata-mata untuk kesenangan belaka, sekedar menikmati hidup. Waktu itu ingin kubiarkan kaki melangkah mengikuti keinginan, goin' where the wind blows kata Mr.Big. Keinginan itu banyak dipengaruhi oleh hasrat yang terbatas pada masa-masa kuliah, terbatas waktu, biaya, maupun kewajiban menyelesaikan kuliah.

Sesaat setelah mengalami sendiri memeras keringat, sedikit demi sedikit mataku terbuka, bahwa hidup ini benar takkan bisa semau sendiri, terlalu banyak faktor yang mempengaruhi manusia yang katanya mahluk sosial untuk menjadi egois, setidaknya begini pemikiranku.

"ra iso ngono dul, urip yo kudu di plening bener-bener, ra bisa sa karepmu...", masih teringat kata-kata seorang temen lama yang berhenti kuliah untuk bekerja, dengan logat khas jawa timuran. Lalu saat-saat pertama berada di kota ini, selepas lebaran empat tahun lalu, benar-benar menjadi saat-saat aku mulai membuka mata, bahwa hidup ini begitu berwarna.

Sampai kini, dengan kesibukan yang tak terlalu sibuk di tempat kerja, dan sampai saatnya pula kuputuskan memiliki keluarga dengan seorang istri yang luar biasa, yang sedang mengandung calon anak kami. Selama ini pula aku masih belajar mengenai tanggung jawab, sebagai lelaki, sebagai seorang suami, dan sebentar lagi (Insya Alloh) menjadi seorang ayah. Tanggung jawab tidak hanya untuk diri ini sendiri, tapi untuk semua manusia yang telah kulibatkan dalam kehidupanku, keluarga dan kawan-kawan. Tanggung jawab untuk menjadi manusia yang bisa menikmati hidup tanpa harus melupakan kehidupan lain yang ada di sekitarnya.


Terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku, akan selalu kunikmati sebagai bagian dari pewarna yang akan membuat hidup ini makin indah. Berusaha pula menganggap segala tugas, beban sebagai kesenangan hidup. Menjalaninya dengan senyum dan tawa, sesulit dan semudah apapun itu. Maxim Gorky merumuskan hal ini dengan sangat baik, “Ketika pekerjaan adalah sebuah kesenangan, kehidupan ini akan menjadi sebuah kegembiraan. Ketika pekerjaan berarti sebuah tugas, kehidupan ini menjadi sebuah perbudakan”.

Pekerjaan, tidak bisa tidak, bagi sebagian orang, bahkan kadang saya masih belajar untuk tidak, masih menjadi beban belaka dalam hidupnya. Bahkan ada yang memutuskan tidak bekerja -dalam arti formal-, tidak terikat dengan kewajiban-kewjiban dari kantor, memilih pekerjaan bebas yang baginya bisa menimbulkan kenikmatan hati. Namun di sisi lain, banyak pula pekerjaan yang memang menjadi keharusan, seberat apapun pekerjaan itu, keharusan untuk sekedar menyambung hidup.


*foto diambil di Kota Tua, Jakarta*

Sampai saat harus kuselesaikan semua pekerjaan ini, dengan sedikit keluhan manusiawi, masih kukenang sebagai sebuah kesenangan dalam hidup.

*Balikpapan, 5 Agustus 2010*
Read More..

27 July 2010

Mbah Kakung, Kesahajaan dan Petuah Bijak



Mbah Kakung kami yang luar biasa, terkesan berlebihan? namun setidaknya begitu bagi kami, anak, cucu dan cicitnya. Dengan 8 anak, Mbah Kakung (demikian panggilan kebesaran beliau) masih tetap segar di usia yang sejenak lagi akan menuju satu abad. Lahir pada awal abad 20, tepatnya 1912, yang berarti usia sekarang pada angka 98tahun, usia yang luar biasa untuk ukuran manusia sekarang, Mbah Kakung masih setia mengawal perkembangan anak, cucu dan cicitnya menjalani keseharian.


Di usia yang menjelang seabad ini, dengan fisik yang sebenernya renta, Beliau tak lelah berjalan kaki menyambangi anak cucu yang tinggal tak jauh dari rumah Budhe, anak tertua yang ditinggalinya. Dikala matari baru sepenggalah melangkah, Mbah Kakung sudah duduk di teras rumahku, dengan sekotak tembakau “mbali”-nya, kertas rokok yang dengan pasrah “dilinting” jemari simbah yang telah berkerut, dan geretan berbahan bakar bensin. Dengan teh tubruk yang hanya orang tertentu yang buatannya disukai embah, dan biskuit “roma kelapa” favoritnya. Kadang tak lupa Beliau menenteng kotak radio transistor kesayangannya, yang didengarkan bukan lagu-lagu melankolis atau sandiwara radio, melainkan berita politik yang telah menjadi menu wajib.

Teringat waktu masih kuliah hukum dulu, seringkali Mbah Kakung menanyakan istilah-istilah hukum yang didengarnya dari berita radio, semisal “Li, bedane kasasi karo banding kuwe apa?”. Sampai sekarang, saat aku pulang ke rumah, hal-hal yang ditanyainya masih seputar kasus aktual, “kae Urip kok bisa kaya kae, aja melu-melu ya!” (saat kasus Jaksa Urip), “Gayus kepriwe siki kae, kok bisa-bisane korupsi?”, sampe yang membuatku tergelitik “Iqbal wonge kepriwe nang kantor, deneng kecekel KPK?”, Mbah Kakung menanyakan tentang kasus Mohammad Iqbal, seorang komisioner pada sebuah kantor komisi, lembaga non-departemen tempatku pernah bekerja, nah lo???sampe saat Beliau menyemangatiku, “Kowe kapan arep ndaftar dadi hakim MK kaya Mahfudz??”, hahaaaaa, Mbah, pangestune putu nggih Mbah….(harapan tulus dari seorang kakek ke cucunya yang bodoh, sing penting aminnn).

“priatin, loman, jujur”

Wejangan yang selalu tak pernah lupa Mbah Kakung sampaikan saat ku pulang. “Priatin” (prihatin), beliau selalu menyarankan untuk prihatin menghadapi segala persoalan hidup, berpasrah diri dan berusaha kata Mbah Kakung. Beliau selalu punya benchmark untuk wejangan ini, Mbah Buyut (bapak dari Mbah Kakung), yang selalu berpuasa sepanjang tahun -kecuali hari yang ga bole puasa tentunya-, dari mutih sampe ngrowod (puasa dan ga makan nasi), prihatin dengan kehidupan, dan mampu menjalaninya dengan indah.

“Loman”, atau “lomo”, Beliau artikan sebagai dermawan, ringan tangan memberi bantuan. Karena apa yang kita berikan, sesedikit apapun dengan keikhlasan kepada yang membutuhkan, tak akan pernah hilang begitu saja, sebaliknya akan berlipat ganjaran yang kita terima, jangan pernah menjadi pelit, demikian Mbah Kakung berujar. Aku membayangkan, dengan kondisi ekonomi keluarga besar kami yang biasa-biasa saja, Mbah Kakung bisa berprinsip seperti itu, aku yakin hatinya sangat kaya. Dan terbayang pula, kalau semua orang berpunya di negeri ini memiliki prinsip “loman”, barangkali tak ada orang miskin di negeri lohjinawi ini *nyawang ngawang*.

Seolah mengambil hikmah dari fenomena korupsi di negeri ini, Mbah Kakung selalu membekaliku pegangan setiap aku pamit berangkat ke Jakarta, kejujuran. “Jujur”, kata beliau, adalah kunci kemaslahatan dalam menjalani hidup. Jangan pernah mengambil yang bukan hak kita, dalam pekerjaan maupun dimanapun. Jangan pernah tergoda yang namanya korupsi, apapun bentuknya. “nek nang kantor, sing jujur, kerja ra sah ngarep sing macem-macem, pokoke kerja sing bener”.

Mbah Kakung, saat sore dan menjelang malam, di atas peraduannya, di atas sajadah tua, dengan berteman tasbih, tak pernah berhenti berdzikir di sisa harinya. Semoga keselamatan, kesehatan dan berkah Gusti Alloh selalu tercurah untukmu Mbah.
Read More..

21 July 2010

Pancimas, Dilema Jalur Wisata (plus info angkutan umum)



Teringat olehku awal tahun 1990-an, sebuah jembatan dengan panjang sekitar 90m dibangun melintas diatas sungai Citanduy, sungai yang memisahkan Kabupaten Cilacap di Jawa tengah dan Ciamis di Jawa Barat. Satu terobosan yang kelak akan mengubah geliat perekonomian masyarakat di Cilacap bagian barat. Pancimas, demikian jembatan itu dinamai, serupa dengan nama jalur jalan yang menghubungkan daerah wisata Pangandaran, menuju wilayah Cilacap dan Banyumas, jadilah istilah pancimas, Pangandaran-Cilacap-Banyumas.

Bukan kebetulan kalau saya dilahirkan di daerah yang dilewati jalur Pancimas tersebut, karena memang tidak ada kebetulan di dunia ini. Seingat saya, jalan di jalur itu sedari awal tahun 90-an sampai sekarang, sudah puluhan kali mengalami perbaikan, karena memang jalan yang rusak telah menjadi hiasan yang identik dengan jalur Pancimas. Dengan intensitas lalu lintas yang ramai dan potensial, dari berbagai sudut kehidupan masyarakat, menjadi hal yang aneh ketika jalan di jalur ini tak juga layak lewat. Harapan datang ketika proyek JSS (Jalur Selatan-Selatan), proyek pembangunan jalan yang konon akan menghubungkan Pemeungpeuk dai Garut, Jawa Barat, sampai daerah Parangtritis di Jogja sana, melewati pesisir selatan Jawa, padanan Pantura barangkali. Tapi entah kapan ini terealisasi….???

Pancimas, sebagaimana namanya, memang menghubungkan daerah wisata Pangandaran, tujuan wisata utama di daerah pesisir selatan Jawa Barat, siapa yang tak mengenalnya. Pantainya, dengan pilihan pantai buat berenang, pendaratan kapal nelayan, berjemur di pasir putihnya yang eksotik, cagar alamnya yang menyimpan kekayaan hayati yang tak ternilai, sampai sepenggal sejarah perjalanan negeri melalui peninggalan masa2 kolonial. Bagi wisatawan yang berasal dari arah Bandung dan Jakarta, tidak akan kesulitan dengan masalah transportasi, serta jalan yang mulus, bahkan dengan adanya rute penerbangan baru yang dibuka oleh maskapai Susi Air, maskapai yang dimiliki oleh saudagar asal kota wisata ini, Susi Pujiastuti.

Namun, tentunya yang tertarik dengan Pangandaran ini bukan hanya orang Bandung atau Jakarta, tak kurang pengunjung yang berangkat dari arah timur Pangandaran, Cilacap, Purwokerto, sampai Jogjakarta. Disini masalahnya, jalur Pancimas yang menyediakan jalur jalan dari arah timur menuju Pangandaran tak sebagus jalan ke arah barat. Jalanan penuh lobang, angkutan umum yang tak ada lagi selewat pukul 18.00, huffff….nampaknya mereka mesti bersabar menungg proyek JSS terwujud.

Namun bagaimanapun, kendala sarana dan prasarana transportasi tak bisa menyurutkan peminat wisata Pangandaran, alternatif wisata semua kalangan, terjangkau mulai kalangan kuli, buruh, artis, eks TKI/TKW, sampai bule-bule pemburu kehangatan pantai, ghrrrrrzzzz.... Dan memang pengaruh wisata Pangandaran telah begitu besar bagi perekonomian masyarakat di sepanjang jalur Pancimas, Kabupaten Ciamis di Jawa Barat dan Cilacap di Jawa Tengah utamanya.

Harapannya, hegemoni proyek Pancimas yang sekarang tergantikan dengan gaung proyek JSS bisa menjadi harapan bagi perekonomian masyarakat di sepanjang jalur itu, tidak lagi menggeliat tapi bangun, nah….. Tidak ada lagi jalan “angkluk-angklukan” macam sungai kering, dan banjir di daerah aliran sungai-sungai di sekitarnya.

Alternatif transport menuju Pangandaran lewat jalur Pancimas:
1. Dari Purwokerto
Dari kota Kripik Purwokerto bisa langsung menggunakan bis tanggung 2 pintu trayek Purwokerto-Pangandaran, ada 2 bis yang beroperasi, Budiman dan Limex, mulai pukul 03.00 dinihari sampai siang hari. Alternatif lain dari Purwokerto bisa naik bis tanggung juga menuju Sidareja (kota kecamatan di Cilacap), lanjut naik bis sejenis jurusan Sidareja-Pangandaran, alternatif ini lebih banyak pilihannya.

2. Dari Jogjaaaaaa
- Bis
Bis besar (Efisiensi, Raharja, dsb) menuju Cilacap, dari Cilacap bisa terus naik bis tanggung 2 pintu rute Cilacap-Sidareja-Pangandaran.
Bis besar lewat Purwokerto, bisa lanjut sesuai alternatif ke-1.
- Kombinasi kereta api dan bis
Kereta api, angkutan masal ini, dapat ditempuh dengan rute Jogja-Sidareja, dari Stasiun Lempuyangan, banyak kereta ekonomi jurusan Bandung yang berhenti di Stasiun SIdareja. Dari Stasiun Tugu, hanya ada satu kereta Bisnis jusrusan Bandung yang berhenti di Stasiun Sidareja, Kereta Lodaya, pagi dan malam.
Dari Stasiun Sidareja, bisa langsung naik bis jurusan Cilacap-Pangandaran atau Purwokerto-Pangandaran dari depan stasiun,atau kalau mau pasti dapet, bisa naik delman dengan waktu tempuh sekitar 1o menit menuju Terminal Sidareja, lanjut deh ke Pangandaran…..
- Travel
Setahu saya memang ada travel Pangandaran-Jogja, karena kebetulan lewat jalan di ndusun saya. cuma informasi yang saya punya sangat terbatas. tapi nampaknya info tentang ini tak akan kurang dari Mbah Gugel.

Sayang info tarifnya saya tak bisa menulis disini, takut tidak akurat, dan nampaknya memang begitu, setelah kenaikan BBM yang terus terusan....hohohooo...

Catatan:
Dua alternatif ini tantangannya sama, siap2 naik bis berasa naik kuda….gludak gludak….ketuplak!!!!
Read More..

Search Box